Latest Post

Dunia Di Ambang Perang Dunia III?

Written By haden dwi on Sunday, 12 October 2014 | 19:36

Ilustrasi perang dunia (eutimes.net)
Konflik belakangan yang terjadi di belahan dunia, khususmya di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Timur dan yang terbaru di Eropa Timur -yaitu Ukraina- yang mana perkembangannya makin mengkhawatirkan, membuat banyak pihak seperti tokoh-tokoh akademisi, politus, intelijen, bahkan tokoh agama memperingatkan bahwa skenario terburuk akan terjadi. Apa skenario buruk tersebut? Tentu sudah bisa ditebak perang dunia ke tiga yang bakal lebih dahsyat dibanding 2 perang dunia sebelumnya, karena kemungkinan besar perang senjata nuklir akan digunakan jika memang diperlukan.

Sebuah video dokumentar singkat dari saluran resmi TV National Geographic di youtube menggambarkan kemungkinan terjadinya perang dunia III yang melibatkan negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat, Rusia dan RRC, yang bahkan tinggal hitungan beberapa tahun ke depan. Penasaran? Silakan menyimak video di bawah ini.


Penipuan Terbesar Dalam Sejarah Ekonomi

Written By haden dwi on Wednesday, 28 May 2014 | 16:53

Jika Anda terbiasa dengan bisnis online, istilah fraud atau scam sudah tidak asing lagi mendengar atau membacanya. Fraud atau scam diterjemahkan sebagai penipuan, yang seringkali istilah ini berhubungan dengan penipuan di sektor finansial atau bisnis. Dalam bisnis biasanya yang berpotensi menjadi scam adalah bisnis yang memiliki skema piramida atau ponzi terutama yang hanya bermain memutar uang anggota atau nasabah seperti arisan berantai, MLM (tidak semua), dan sejenisnya.[1]

Ternyata ada juga sampai saat ini mereka yang menjalankan bisnis seperti skema piramida atau ponzi di sektor keuangan yang berpotensi terjadi scam atau penipuan yang sangat besar namun dilegalkan oleh penguasa, padahal sudah banyak contoh kegagalan mereka ini, apalagi kalau bukan institusi perbankan, termasuk asuransi. Perbankan tumbuh besar karena dilindungi oleh undang-undang bahkan jika terjadi kegagalan sistemik atau krisis moneter akibat kredit macet, berpotensi rush (penarikan dana nasabah besar-besaran), maka pemerintah suatu negara tidak segan-segan mengucurkan dana bantuan atau talangan yang nilainya fantastis untuk mengobati bank yang sakit, seperti kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) contohnya, dan masih banyak lagi kasus-kasus serupa di mancanegara. Di lain pihak subsidi masyarakat biasanya dikurangi atau bahkan dicabut pada saat kondisi krisis terjadi, dengan alasan penghematan anggaran negara. Ironis memang, padahal tulang punggung ekonomi sebenarnya adalah para pedagang atau pengusaha di bidang riil walaupun jika usahanya hanya skala kecil seperti UMKM[2], bukan sekedar institusi pemutar uang seperti bank. Anda juga bisa sedikit mengambil referensi dari membaca buku "Ponzi Ekonomi: Prospek Indonesia Di Instabilitas Global".[3]

Padahal bank sendiri menciptakan uang dari angin bak atraksi sulap. Ini adalah penipuan yang bisa jadi terbesar dalam sejarah perekonomian umat manusia, dan mungkin mayoritas manusia di dunia ini tidak tahu. Bagaimana bukan tipuan? Setiap bank mengucurkan kredit, maka pada saat itu juga mereka menciptakan uang dari angin seperti para pesulap. Misal jika jumlah uang nasabah yang disetor total 100 juta rupiah maka bank bisa mengucurkan kredit 90 juta rupiah namun jumlah uang di rekening nasabah mereka bukan berkurang menjadi 10 juta rupiah namun bertambah menjadi 190 juta rupiah! Dimana tambahan 90 juta rupiah adalah uang sulap ciptaan bankir. Namun menurut teori fractional reserve banking dari 100 juta rupiah uang fisik ini, bankir bisa mengucurkan kredit hingga 900 juta rupiah, wow! Sedangkan uang yang 100 juta rupiah tersebut sebagai cadangan kalau-kalau nasabah yang memiliki tabungan ingin mengambil sebagian uangnya dalam bentuk fisik. Hingga jumlah uang maya yang terlihat di rekening tabungan nasabah jauh lebih besar daripada jumlah uang fisik kertas bernomor seri terbitan bank sentral yang dimiliki bank tersebut. Dari uang sulapan tersebut, mereka juga menarik bunga (riba) dari setiap kredit kepada pengutang yang biasanya disertai jaminan aset riil -seperti bangunan dan kendaraan bermotor- yang bila gagal bayar aset riil tersebut bisa disita oleh bank.
Ilustrasi Kredit Sistem Fractional Reserve Banking (money.howstuffworks.com)

Pada akhirnya jumlah uang yang beredar lebih banyak daripada produksi barang dan jasa. Tentu saja kondisi ini berimbas pada naiknya harga barang dan jasa, yang pada hakekatnya adalah penurunan nilai mata uang akibat membludaknya uang yang beredar akibat ulah sistem perbankan tersebut, walaupun uang yang digunakan untuk transaksi kebanyakan hanya berupa uang elektronik di atm-atm dan mesin-mesin debit dalam bit komputer. Bahkan pada kenyataannya hanya kurang dari 5% jumlah uang kertas (fisik) dalam total peredaran uang.

Anda bisa membaca buku panduan perbankan modern yang berjudul "Modern Money Mechanics" bagaimana sistem perbankan di dunia ini bekerja. Sebagaimana di pembukaan buku ini tertulis:

"The purpose of this booklet is to describe the basic process of money creation in a "fractional reserve" banking system. The approach taken illustrates the changes in bank balance sheets that occur when deposits in banks change as a result of monetary action by the Federal Reserve System - the central bank of the United States". 

Buku tersebut bisa dibaca secara online atau juga diunduh di sini.

Skema ponzi atau penipuan ini akan runtuh apabila para nasabah bank berbarengan mengambil uang kertasnya di bank atau rush, karena dipastikan bank tidak memiliki jumlah uang kertas sebesar di catatan rekening nasabah mereka dalam bit komputer. Hal ini sama seperti arisan berantai atau money game dan sejenisnya. Untuk lebih detailnya mari kita menyimak video di akhir tulisan berikut.

Menjadi Tukang Survei Itu...

Written By haden dwi on Saturday, 24 May 2014 | 08:05

"Jadi tukang survei itu... sejuta rasanya..." 

haha... lebay mungkin perkataan di atas, tapi itulah sebuah gambaran nyata di kehidupan kita di manapun berada, karena setiap bidang pekerjaan dalam hidup ini memang memiliki atmosfir lingkungan masing-masing yang berbeda sehingga membuat sejuta cerita suka dan duka. Menjadi seorang karyawan atau pekerja maupun merintis menjadi pengusaha mandiri, masing-masing memiliki jalan cerita sendiri namun tetap ada cerita suka-duka di dalamnya.

Ya nasib menjadi pekerja lepas outsourcing yang dipakai subkontraktor untuk mengerjakan proyek adalah sebuah pekerjaan yang pernah penulis lakoni beberapa bulan terakhir ini.

Terlepas dari berbagai masalah yang berhubungan dengan nasib sebahagian pekerja outsourcing seperti kesejahteraan, gaji murah, telat dibayar dan sebagainya tidak menjadi fokus penulis di catatan kecil ini. Penulis memberikan sedikit fokus kepada seputar cerita di lapangan itu sendiri tentang pekerjaan menjadi seorang tukang survei lapangan atau bahasa kerennya adalah surveyor.

Survei ke lapangan yang penulis laksanakan bukan untuk data kependudukan ataupun berhubungan dengan PEMILU dan sejenisnya. Survei yang dikerjakan bersama rekan-rekan ini adalah dalam rangka kebutuhan bisnis untuk jaringan kabel serat optik salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

Pengalaman unik yang sering ditemui penulis ketika sedang melaksanakan survei di lapangan adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika bersinggungan dengan warga setempat. "Sedang apa bang?" Dan pertanyaan sejenis itu, adalah yang sering ditanyakan mulai dari anak-anak hingga bapak-bapak dan ibu-ibu setempat. Kebanyakan dari mereka mengira terutama kalangan ibu-ibu dan bapak-bapaknya akan ada penggusuran atau pelebaran jalan karena melihat kami menggunakan roda meteran hehe.. Mungkin itulah resiko dan sekaligus pengalaman warga yang tinggal di kota besar seperti Jakarta yang harus siap jika sewaktu-waktu rumah tinggalnya harus kena gusur. Kalau pertanyaannya langsung ke arah sana biasanya ada rekan dalam tim yang menimpali pertanyaan tersebut sambil bercanda.

Sekilas pekerjaan ini bisa dianggap mudah atau sepele. Bisa dibilang tidak perlu ada keahlian khusus untuk pekerjaan lapangan seperti ini, hampir semua orang bisa melakukan pekerjaan lapangan ini. Padahal dari pengalaman menjadi seorang surveyor ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini.

1. Jaga kesehatan dengan baik, karena dibutuhkan stamina yang mantap menjadi seorang tukang survei untuk menjalani wilayah yang cukup luas dengan berjalan kaki kiloan meter, apalagi menghadapi cuaca ketika musim kemarau seperti di Jakarta ini.

2. Memiliki peralatan yang memadai untuk melaksanakan tugas di lapangan seperti peralatan pendukung peta, GPS, dan sebagainya terutama agar kita tentunya tidak tersasar.

3. Selain memiliki peralatan pendukung seperti peta dan GPS, kita minimal harus bisa membaca peta, lebih bagus lagi bisa membaca data GPS dan arah. Karena di lapangan data yang diterima dengan fakta di lapangan bisa berbeda, seperti nama jalan yang mungkin beda, jalan yang buntu, dan lain sebagainya. Jika tidak, akan percuma juga memiliki peta dan GPS di tangan apalagi jika petanya hampir sama dengan peta buta, karena bisa tersasar juga. Pengalaman dari beberapa rekan-rekan sejawat membuktikan hal tersebut hehe...

4. Memiliki strategi bagaimana menjalani survei di wilayah yang luas dalam waktu yang lebih singkat agar hasil pekerjaan lebih efisien. Dari hasil membaca peta kita bisa memilah-milah wilayah mana yang pertama akan digarap pertama dan selanjutnya bagaimana metode tim survei mengumpulkan informasi yang lebih cepat. Jika tidak memiliki strategi yang baik bisa jadi kita malah menghabiskan banyak waktu walaupun di wilayah yang kecil.

5. Kemampuan komunikasi yang baik, karena di lapangan berhubungan dengan berbagai pihak seperti warga setempat, bahkan bisa saja diinterogasi oleh bapak Rt/Rw setempat bahkan petugas keamanan (satpam) atau polisi. Tentu lebih baik jika memiliki surat tugas dari instansi atau perusahaan terkait.

Itulah secuplik cerita dari pengalaman penulis menjadi seorang tukang survei. Salah satu pelajaran yang bisa dipetik adalah apapun pekerjaan Anda, dianggap sepele sekalipun ternyata kita mesti memiliki persiapan dan strategi yang memadai untuk menghasilkan kerja yang optimal. Selamat bekerja!

Pasar Barter, Alternatif Solusi Hiperinflasi

Written By haden dwi on Thursday, 1 May 2014 | 10:05

Hiruk pikuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), sepanjang sejarah negeri ini telah menimbulkan gejolak di masyarakat. Hal ini terus berulang setiap kali pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM karena otomatis akan menimbulkan inflasi atau kenaikan harga-harga mayoritas produk barang ataupun jasa, terutama bahan-bahan pangan yang termasuk sembilan bahan pokok (sembako).

Pasar barter Wulandoni (Foto ataplaut.wordpress.com)

Namun ternyata di sebahagian wilayah negeri ini, masih ada daerah yang tidak terpengaruh dengan kenaikan harga BBM bagi kehidupan masyarakatnya. Ya salah satunya adalah sebuah pasar barter, di desa Wulandoni, kecamatan Wulandoni, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak mengalami kenaikan harga karena menggunakan prinsip barter antar komoditas pangan tanpa uang fiat rupiah. Tentu sudah menjadi hal yang umum bahwa sistem uang fiat yang digunakan seluruh negara-negara modern di dunia ini  telah mengalami depresiasi (penurunan nilai mata uang) yang begitu akut lewat krisis moneter yang bergulir di antara negara-negara tersebut karena sistem uang fiat yang berbasis perbankan ribawi.

Berikut ini sekilas kisah dari pasar tersebut. Fauziah, 50, warga Desa Lebala, kecamatan Wulandoni. Warga pesisir ini pergi ke pasar Barter bermodalkan ikan sembilan kering, kapur sirih dan gula pasir. Fauziah berniat menukarkan barang bawaannya itu dengan beras jagung, jagung bulir, ubi kayu dan sayur-sayuran dari pedalaman.

"Barang bawaan Saya ini mau tukar ubi kayu, beras jagung, bulir jagung, pisang dan ubi kayu. Jika ditukarkan, biasanya satu baskom, saya bisa bawa pulang dua karung berisi bulir jagung, pisang dan ubi kayu serta sayur-mayur, bisa untuk makan selama 1 bulan. Kami mampu bertahan karena tukar-menukar barang ini tanpa uang,"; ujar Fauziah.[1]

Dari kisah di pasar Wulandoni tersebut, dapat kita ambil pelajaran bahwa pada hakekatnya perbandingan harga antar komoditas cenderung relatif tetap, kecuali ada perubahan yang signifikan antara besarnya permintaan dan penawaran di pasar, di mana hal ini merupakan suatu kondisi yang alamiah.

Ilustrasi inflasi (original-republican.com)

Barter Antar Negara

Siapa bilang sistem barter antar barang komoditas adalah sistem pembayaran kuno dan sulit atau tidak relevan diterapkan saat ini. Bahkan di era sistem uang fiat yang semakin terpuruk ini, sistem barter adalah sebuah model transaksi yang cukup adil karena tukar menukar barang yang memiliki nilai riil atau intrinsik. Hal ini tentu sesuai dengan sifat alamiah manusia.

Penjualan pesawat CN-235 yang dibayar dengan beras ketan[2], atau barter pesawat tempur Sukhoi dan helikopter Rusia dengan CPO dengan komoditas pertanian lain Indonesia,[3] adalah beberapa contoh kecil bahwa barter antar komoditas adalah suatu yang alamiah dalam kehidupan manusia. Bahkan sebenarnya yang terjadi dalam pembayaran dengan sistem uang fiat ini adalah barter komoditas yang bernilai riil dengan selembar kertas hampa atau byte di layar komputer yang nilainya maya dan bisa hilang nilainya sewaktu-waktu karena hiperinflasi dalam waktu singkat.

Jadi kembali melakukan transaksi pembayaran dengan sistem barter komoditas ataupun pembayaran dengan uang yang menggunakan komoditas seperti emas dan perak --dimana nilai yang terkandung dari logam mulia tersebut dinilai dari beratnya, bukan angka yang tertera seperti uang kertas-- adalah salah satu alternatif solusi menghadapi inflasi yang terus menerus atau hiperinflasi di masyarakat modern sekarang ini

Di bawah ini adalah cuplikan video tentang pasar barter Wulandoni yang diceritakan di awal tulisan ini.


Catatan:

Pelajaran Dari "Penyeru: Hutang itu Mulia"

Written By haden dwi on Monday, 14 April 2014 | 11:40

Jika kita pernah membaca, mendengar, atau mengikuti seminar atau training yang memiliki slogan "Hutang itu mulia" atau prinsip "cara gila jadi pengusaha" tentu tidak asing dengan nama Purdi E. Chandra.Ya Beliau  adalah pendiri lembaga bimbingan belajar "Primagama" yang cukup terkenal di Tanah Air yang telah menjadi bisnis waralaba.

Beliau juga pendiri dari Entrepreneur University (EU) yang mempolulerkan slogan atau prinsip tersebut lewat tulisan, seminar, training, agar menularkannya masyarakat dengan tujuan mencetak banyak orang menjadi pengusaha sukses seperti beliau. Kisah sukses bisnisnya otomatis menjadikan beliau sekaligus motivator dan mentor. Banyak sekali tulisan yang membahas tentang strategi dari prinsip tersebut jika kita cari di dunia maya.

Namun belakangan, tahun 2013 lalu ada kabar yang kurang sedap berkenaan dengan status beliau. Karena berita di media cukup santer mengungkapkan tentang putusan Pengadilan Niaga Jakarta yang menyatakan bahwa pihak Purdi pailit karena telat membayar hutang atau tidak mampu membayar kewajiban dari fasilitas kredit yang dikucurkan pihak BNI syariah dalam bentuk skema murabahah.

Setelah beberapa bulan berlalu tak terdengar lagi ramainya kasus yang menimpa beliau, di awal tahun 2014 ini penulis mendapat kabar yang mengejutkan sekaligus melegakan. Beliau ternyata ikut tampil dalam acara komunitas Pengusaha Tanpa Riba dan memberikan sebuah cerita atau kesaksian singkat perjalanan beliau hingga bertemu dengan komunitas tersebut. Pengusaha Tanpa Riba sendiri adalah sebuah komunitas kumpulan pengusaha-masyarakat yang konsern dengan isu riba, yang adalah sebuah gerakan sosial yang bermaksud mengajak para pengusaha untuk berbisnis sesuai syariah. Banyak problematika masalah bisnis yang dihadapi oleh para pengusaha muslim, terutama berkaitan dengan riba yang semakin lama tak terelakan lagi, oleh karena itu komunitas ini berupaya membangun kesadaran umat dengan membuat forum-forum diskusi, seminar, workshop, dan sebagainya yang bertujuan mencari solusi atas tantangan bisnis saat ini.

Di bawah adalah rekaman video singkat kesaksian Purdi E. Chandra di salah satu acara seminar komunitas Pengusaha Tanpa Riba. Semoga beliau tetap konsisten untuk mendukung perjuangan membangun bisnis tanpa riba dan kembali menularkannya kepada para murid-muridnya di EU, seminar dan pelatihan beliau yang lain. Malah dalam kesaksian singkat ini beliau mengajak melakukan gerakan nasional tanpa riba dengan slogan barunya "Gentar".


Aksi Revolusi "Pemberontakan" Rakyat Jelata

Written By haden dwi on Saturday, 12 April 2014 | 21:59

"SIAPA MENGENDALIKAN BAHAN PANGAN, DIALAH YANG MENGENDALIKAN MANUSIA. SIAPA MENGENDALIKAN MINYAK, DIALAH YANG MENGENDALIKAN BENUA. SIAPA MENGENDALIKAN UANG, DIALAH YANG MENGENDALIKAN DUNIA."
- Henry Kissinger [1]


Kutipan di atas yang diambil dari seorang tokoh, tentang unsur-unsur penting dalam kehidupan manusia yang bisa mempengaruhi hajat hidup orang banyak bisa menjadi renungan kita bersama.

Rakyat atau masyarakat yang merupakan komponen terbesar dari sebuah organisasi atau komunitas sebuah negara, memiliki peran yang sangat penting pengaruhnya dalam sebuah perubahan ke arah kebaikan maupun keburukan. Di artikel "Pemimpin adalah cerminan rakyat" telah dijelaskan gerak aktivitas komponen dalam masyarakat atau rakyat jelata sedikit banyak akan mampu mengubah kondisi sebuah negeri.

Jika negara-negara seperti Jepang, Korea atau Cina begitu sangat mendukung produk-produk buatan dalam negeri mereka sendiri dan melindungi dari serangan produk asing, seharusnya kita tidak perlu heran karena rakyat atau masyarakat mereka sendiri mencintai dan bangga menggunakan produk mereka sendiri. Bagaimana dengan negeri kita? Kalau kita menganggap bahwa pemerintah tidak terlalu mendukung produk dalam negeri atau sangat lemah dengan investor asing, boleh jadi masih banyak masyarakat kita yang lebih bangga menggunakan produk impor dan enggan menggunakan produk lokal, juga merasa rendah diri berhadapan dengan expatriat.

Kondisi negara-negara dunia, khususnya di negara berkembang semenjak merdeka dari penjajahan negeri-negeri Eropa hingga pada zaman globalisasi sekarang ini yang berbasis demokrasi, liberalisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme ternyata hanya memberi perubahan yang berarti bagi sebahagian kecil kelompok atau elit masyarakat, dan meninggalkan masalah kemanusiaan, serta kehancuran lingkungan, dengan adanya perlombaan untuk merebut sumber-sumber daya dan perebutan "pasar" lewat penjajahan ekonomi, sosial, budaya maupun politik. Langsung atau tidak, sistem modern ini memaksa budaya kearifan di masyarakat suatu negeri yang sebenarnya sudah cukup maju atau mandiri namun harus mengikuti sistem negara modern dalam bidang ekonomi, sosial, politik untuk memonopoli hajat hidup masyarakat. Contoh dalam bidang politik ada istilah negara bangsa dan demokrasi politik praktis, di bidang ekonomi ada perbankan ribawi dan uang fiat dan turunannya, revolusi hijau dalam bidang pertanian, dan masih banyak lagi jika mau kita sebutkan satu-persatu.

Namun ternyata kondisi di negara-negara maju sendiri, sebagian masyarakatnya juga merasakan ada yang salah dengan sistem politik, sosial, ekonomi yang dianut negara-negara mereka. Hingga ketidakpuasan sebahagian masyarakat tersebut menimbulkan gerakan-gerakan yang mencoba untuk menentang hegemoni sistem yang sudah mengubah wajah dunia saat ini. Salah satunya yang beberapa tahun belakangan yang populer adalah gerakan "occupy wallstreet" yang diikuti di kota-kota lain seluruh dunia yang tujuannya untuk memprotes keadaan sosial-ekonomi yang ada dan menyerukan perbaikan sistem yang lebih adil bagi seluruh masyarakat.

Selain itu muncul juga gerakan-gerakan serupa di bidang agraria, ekonomi-finansial, sosial budaya dan lainnya yang membentuk suatu komunitas bersama untuk bertujuan untuk memberikan solusi bagi peradaban dunia modern, yang mana gerakan berbasis dari rakyat untuk rakyat tanpa harus selalu bergantung dengan sistem yang ada.

Gerakan-gerakan yang lahir ini yang cenderung bersifat sosial-budaya bisa dibilang adalah aksi revolusioner "pemberontakan" tanpa senjata dari rakyat jelata, yang sudah tidak terlalu berharap kepada penguasa dan sistem yang berjalan. Jika dilihat, sebenarnya gerakan-gerakan ini kembali merujuk kearifan budaya masa lalu yang universal untuk membentuk suatu komunitas masyarakat mandiri untuk menyelesaikan masalah-masalah yang muncul akibat sistem politik, sosial, ekonomi yang berlaku saat ini, atau bisa disebut juga menjadi masyarakat madani.

Melihat dari situasi dan kondisi tersebut di atas, paling tidak ada beberapa fokus gerakan-gerakan rakyat di dunia yang sebenarnya saling terkait satu sama lain untuk membangun peradaban yang lebih baik untuk menghadapi kezaliman suatu sistem yang memonopoli kehidupan mayoritas manusia.

1. Membangun komunitas mengembangkan sumber pangan mandiri

Menanam Pangan Mandiri (foto neworderworld.com)


Revolusi Hijau yang mulai bergulir di pertengahan abad 20 telah mengubah wajah sistem pertanian dunia, yang teorinya adalah bertujuan untuk memproduksi pangan secara besar dan efisien untuk menghadapi kekhawatiran kekurangan pangan karena ledakan penduduk dunia dan hiperinflasi harga pangan. Di mana muncul industri-industri raksasa pertanian yang mana sering menggunakan benih hibrida GM (Genetically Modified) atau transgenik yang dipatenkan dari hasil percobaan mereka untuk dijual ke para petani beserta pupuk dan pestisida. Namun industrialisasi dan kapitalisasi benih ini pada akhirnya akan memonopoli sumber pangan masyarakat.

Petani, yang telah hidup selama ribuan tahun menggunakan benih organik mereka yang tumbuh alamiah, sekarang harus membeli benih, pupuk kimia dan pestisida dari pabrik mereka untuk mendapatkan keuntungan. Membeli bibit dan pupuk, tentu saja, lebih mudah untuk orang kaya daripada orang miskin. Para petani pada akhirnya sekedar menjadi buruh tani dari industri pertanian, dan penanaman besar hanya beberapa varietas juga mengurangi keanekaragaman hayati. Kisah petani kreatif yang membudidayakan benih mandiri namun akhirnya dipenjara bisa menjadi contoh kasus sebuah hegemoni paten benih transgenik hasil industri besar saat ini[2], dan jika Anda rajin mencari info lewat dunia maya saja, akan banyak menemukan kasus-kasus serupa bahkan bisa lebih mengerikan, apa yang terjadi di seluruh dunia akibat negatif dari kapitalisasi pertanian dan peternakan.

Perlawanan masa kini tidak hanya cukup demonstrasi di jalan-jalan saja tapi lebih dari itu, muncul pergerakan-pergerakan masyarakat dari kesadaran sendiri untuk melawan sistem yang buruk di bidang pangan tersebut. Komunitas-komunitas seperti pertanian dan peternakan organik, hidroponik, adalah beberapa contoh gerakan penyadaran masyarakat secara sosial-budaya untuk belajar menanam sendiri pangan mereka supaya tidak selalu bergantung diri  dari sumber pangan yang dimonopoli industri besar.

Contoh bagaimana suatu negara menghasilkan sumber pangan sendiri dari komunitas-komunitas di masyarakat adalah komunitas Dacha di Rusia, sebuah komunitas perumahan musiman yang pada tahun 2011 diklaim telah menghasilkan 40% kebutuhan pangan di Rusia dari kebun-kebunnya.[3]

2. Membangun komunitas perdagangan bersifat bebas dan adil yang menggunakan uang komoditas dan barter.

Hiperinflasi atau penurunan nilai mata uang (sumber bankdirham.com)
Untuk tema ini sudah seringkali penulis di situs ini, membahas tentang penggunaan mata uang komoditas seperti logam mulia, atau komoditas pangan yang disukai masyarakat setempat. Uang di era modern sekarang telah berubah dari penggunaaan komoditas seperti emas, perak maupun yang lain menjadi uang fiat kertas dan elektronik (e-money) yang dipelopori oleh para bankir internasional untuk mengambil keuntungan bagi mereka sendiri.

Penciptaan uang fiat dimonopoli oleh bank sentral dan bank swasta lewat sistem fractional reserve dan bunga (riba) sehingga menyebabkan krisis moneter, ketimpangan ekonomi, hiperinflasi atau penurunan nilai mata uang akibat membengkaknya jumlah uang fiat yang beredar di masyarakat akibat sistem perbankan tersebut.

Untuk membahas secara detail isu di atas, Anda bisa melihat tulisan-tulisan yang lain di situs ini seperti tentang uang komoditas, uang ciptaan bank, hegemoni uang fiat Dolar, masa depan uang, serta video animasi yang bercerita tentang bank dan bankir, penipuan terbesar ekonomi, dan tulisan tentang hidup tanpa uang. Sebenarnya masih ada tulisan lain yang berkaitan, namun link-link tulisan tersebut sudah cukup menjelaskan panjang lebar isu tentang sistem ekonomi modern sekarang ini.

Dengan muncul gerakan-gerakan atau komunitas yang ingin mengembalikan sistem ekonomi atau perdagangan yang bebas dan adil maka dibutuhkan sistem yang adil dari model ekonomi dan jenis uang itu sendiri. Penggunaan uang emas dan perak sebagai transaksi atau dengan model barter antar barang komoditas ataupun jasa bisa menjadi pelopor gerakan untuk menghadapi ancaman kehancuran nilai mata uang atau hiperinflasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Komunitas pengguna dinar-dirham atau koin emas-perak serta komunitas barter seperti di pasar barter Wulandoni merupakan contoh konkrit solusi dari masyarakat agar tidak terpengaruh gonjang-ganjing yang terjadi pada sistem mata uang fiat global.

3. Membangun komunitas kerjasama bisnis dan industri yang adil

Komunitas Modern Gilda (Paguyuban) Produksi
(foto creativesguild.tumblr.com)
Revolusi industri yang muncul di Barat abad ke-18 menyebar dengan pesat ke seluruh dunia secara langsung atau tidak langsung menjadi bahan bakar bagi kolonialisme dan imperialisme Eropa untuk merebut dan menguasai sumber daya alam yang tersebar di penjuru dunia.

Kombinasi revolusi industri, kolonialisme, munculnya kapitalisme, sosialisme-komunisme, dan juga sistem perbankan yang mulai menggeliat di Eropa, pada kelanjutannya mulai menghancurkan sistem komunitas bisnis di era tersebut yang dikenal dengan model gilda (paguyuban) produksi dan pedagang. Gilda atau paguyuban ini hampir mirip dengan model koperasi modern.

Rakyat mulai dipekerjakan sebagai buruh bahkan budak di pabrik-pabrik atau industri. Di negeri-negeri yang mayoritas berpenduduk muslimpun ikut terkena imbasnya dengan dihancurkannya sistem sosial-ekonomi bersifat bebas dan adil yang sesuai dengan aturan Islam (dikenal istilah mu'amalah) yang juga telah ada. Alam dan manusia dieksploitasi sedemikian rupa sehingga hanya menghasilkan ketimpangan, ketidakadilan dan kerusakan di berbagai lini kehidupan.

Tidak heran masa sekarang model ekonomi kelas buruh-majikan sudah menjadi hal yang biasa. Isu-isu kelas di masyarakat terbagi menjadi buruh-majikan atau borjuis-proletar hanya menghasilkan masalah-masalah lain yang tidak tuntas.

Solusi model sistem sosial-ekonomi modern yang berbasis perusahaan industri dan perburuhan yang didukung perbankan harus kembali ke model kearifan sosial budaya masa lalu seperti komunitas gilda atau paguyuban produksi dan pedagang. Buruh tidak selamanya menjadi "mesin" produksi di pabrik. Dalam gilda atau paguyuban, setiap anggotanya memiliki keahlian yang serupa, seperti gilda sepatu memberikan keahlian bagaimana membuat sepatu, begitu juga gilda-gilda yang lain. Sedang dalam perusahaan industri, misal pabrik sepatu, mayoritas buruh di pabrik sepatu malah bisa tidak memiliki keahlian bagaimana membuat sepatu. Tulisan lain yang bisa melengkapi isu ini bisa kembali membaca tulisan tentang gilda atau paguyuban untuk mengatasi perburuhan. Sistem kontrak bisnis atau perkongsian usaha yang adil adalah salah satu komponen dalam gilda tersebut.

Gerakan "Beli Indonesia" yang dipelopori oleh seorang pengusaha lokal bisa juga termasuk sebuah contoh gerakan sosial-budaya membangun komunitas pengusaha lokal yang kebanyakan berbasis usaha kecil-menengah atau disingkat UKM.

Kucuran modal untuk komunitas gilda-gilda produksi tersebut selain dari kantong anggota sendiri, tidak harus menggunakan pinjaman perbankan atau menjual saham. Di era internet sekarang alternatif permodalan bisa juga dengan model crowdfunding bagi startup (perusahaan baru) ataupun perusahaan besar sekalipun, ataupun alternatif permodalan yang lain selain hutang dari perbankan.

 
4. Membangun komunitas untuk menggunakan sumber energi mandiri

"All peoples everywhere should have free energy sources."
"Electric power is everywhere present in unlimited quantities and can drive the world's machinery without the need of coal, oil, gas, or any other of the common fuels." - Nikola Tesla

Sumber Energi Listrik Tenaga Angin Dan Surya (foto Lentera Angin Nusantara)
Kelangkaan sumber energi  minyak bumi --kita kenal dengan singkatan BBM-- yang bisa mengakibatkan tingginya kenaikan harga minyak bumi, sering menjadi momok masyarakat dunia. Itulah mengapa konflik di wilayah Timur Tengah yang kaya sumber minyak bumi dapat mempengaruhi harga komoditas tersebut. Hal ini dikarenakan minyak bumi adalah sumber energi yang masih banyak dipakai dalam aktivitas sehari-hari masyarakat dunia dan termasuk sumber energi yang tidak dapat diperbaharui.

Melihat potensi besar sumber-sumber energi minyak, akibatnya sumber-sumber minyak bumi tersebut diperebutkan oleh negara-negara maju lewat tangan perusahaan-perusahan besar multinasional karena melihat keuntungan yang menggiurkan. Namun bagi sebagian besar masyarakat, terutama mereka yang tinggal di negara-negara yang tidak memilliki sumber minyak yang sangat besar atau tidak ada, tentu bisa ketar-ketir jika tiba-tiba pasokan energi minyak berkurang atau harganya yang melambung tinggi karena berpengaruh dengan denyut operasional ekonomi industri di negara tersebut karena sistem yang dibangun saat ini memang bertumpu dengan industri-industri besar yang memang haus akan bahan bakar tersebut.

Sebenarnya untuk mengatasi kelangkaan energi di dunia ini, sudah muncul langkah-langkah untuk mengatasi kebutuhan energi yang semakin meningkat. Sumber-sumber energi pengganti BBM seperti bioetanol, biogas, listrik mulai mendapat perhatian walau mungkin belum menggantikan 100%. Sumber energi listrik otonom di masyarakat juga bisa juga didapat dengan mengembangkan sumber energi listrik tenaga matahari dan angin.

Untuk lebih memaksimalkan penggunaan energi alternatif yang sangat banyak jenisnya ini, tentu komunitas-komunitas masyarakat diharapkan berani memulai sendiri proyek-proyek otonom tersebut dengan dukungan pemerintah ataupun tidak, agar tidak melulu bergantung dari industri penghasil minyak bumi dan listrik yang memiliki keterbatasan. Karena sekali lagi gerak nyata kesadaran di masyarakatlah yang bisa memberikan solusi-solusi penggunaan energi secara luas di masyarakat. Komunitas seperti Lentera Angin Nusantara adalah salah satu model gerakan untuk mengembangkan sumber energi listrik tenaga angin di masyarakat Indonesia.

Ecovillage

Perpaduan harmonis yang saling melengkapi di antara aksi-aksi komunitas di atas, bisa membangun sebuah komunitas baru yang lebih besar serta menumbuhkan gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan sekitar baik manusia ataupun alam sekitar dan juga otonom dari ketergantungan pemerintah pusat. Secara alamiah akan muncul norma-norma yang membentuk struktur sosial-budaya berdasar kearifan lokal, bahkan bisa melahirkan tokoh-tokoh kepemimpinan di komunitas tersebut, tanpa model birokrasi yang berbelit sebagaimana di sistem negara modern dengan model politik praktis seperti demokrasi modern. Model komunitas "think globally, act locally" tersebut saat ini dikenal dengan sebutan Ecovillage.

Gerakan rakyat seperti ini mungkin jarang terpikirkan oleh masyarakat bahkan pemerintah, padahal aksi-aksi dengan metode pendekatan sosial budaya seperti ini bisa termasuk gerakan "Revolusi Senyap" karena cepat atau lambat bisa menginspirasi kelompok-kelompok lain di masyarakat sehingga meluas dan otomatis bisa mempengaruhi wajah suatu negeri.

Lebih lanjut tentang Ecovillage bisa dibahas di tulisan yang lain. Semoga kita semua bisa menjadi agen penggerak perubahan di negeri yang kita cintai bersama.


[1]pohonbodhi.blogspot.com
[2]news.detik.com
[3]healthimpactnews.com

Perjuangan Regulasi OpenBTS Mulai Berbuah Manis

Written By haden dwi on Sunday, 6 April 2014 | 07:28

Pemasangan Radio OpenBTS di Pedalaman Papua
Kali ini kami tampilkan sebuah video wawancara blakblakan kang Onno Purbo tentang perjuangan internet murah dan aturan atau regulasi teknologi OpenBTS -teknologi seluler (GSM) open source. Bagaimana ide untuk membuat internet murah di Indonesia, dan bagaimana strategi perjuangan kang Onno dan rekan-rekannya supaya teknologi OpenBTS bisa dipakai dan berkembang luas di tanah air.

Perjuangan regulasi OpenBTS dimulai semenjak beberapa tahun belakangan, kang Onno sadar bahwa posisi beliau bukan pemegang kekuasaan, bukan pula seorang pengusaha atau investor tetapi hanya mengaku sebagai seorang rakyat jelata. Tapi beliau memiliki idealisme sendiri bagaimana bisa memperjuangkan teknologi OpenBTS bisa berkembang dan digunakan secara luas di Indonesia.

Oleh karena itu strategi beliau adalah menggunakan segala kemampuan beliau untuk mengajak, menyeru, memberi ilmu tentang teknologi ke masyarakat, dengan tulisan artikel online, sosial media, menulis buku, mengadakan seminar dan workshop di kampus-kampus dan komunitas, serta bekerjasama dengan vendor pembuat, dan tak lupa berunding atau bernegosiasi dengan pihak-pihak pemangku kepentingan di negeri ini agar wacana OpenBTS makin besar yang berlanjut kepada praktek penerapannya. Kabar terakhir OpenBTS telah dipergunakan di pedalaman Papua oleh sebuah perusahaan operator lokal yang dijalankan LSM setempat.[1]

Strategi yang digunakan beliau ini tidak jauh berbeda dengan perjuangan pembebasan frekuensi 2.4 Ghz -lebih dari satu dekade yang lalu- dalam rangka mendukung perkembangan internet murah di Indonesia. Dimana beliau termasuk salah satu tokoh yang aktif dalam isu tersebut.

Sepak terjang dan kegigihan kang Onno membuat perusahaan pengembang perangkat OpenBTS Range Networks kagum dengan perjuangan beliau sehingga mendukung penuh langkah-langkah beliau. Hal ini terlihat dari tweet-tweet resmi perusahaan Range Networks tersebut, contohnya seperti di bawah ini.


Dari sini bisa kita ambil sebuah pelajaran, bahwa beliau yang merasa sebagai rakyat jelata, bukan bagian dari regulator (pemerintah), bukan investor atau pengusaha, bukan pula wakil rakyat, namun bisa mempengaruhi pihak-pihak pemangku kepentingan (stakeholder) termasuk penguasa, karena beliau tahu cara yang lebih membumi dan mengakar agar sebuah visi misi yang diusung bisa berhasil. Yaitu dengan ilmu, diplomasi, negosiasi dan teladan, agar sebuah ide bisa diterima.  Mungkin beliau bisa dianggap sebagai "da'i" atau penyeru yang "berdakwah" dibidang Teknologi Informasi dan Telekomunikasi (TIK) dan open source khususnya di Indonesia.

Lalu bagaimana cerita singkat perjuangan kang Onno untuk memuluskan aturan tentang OpenBTS di Indonesia? Bagaimana tanggapan regulator terhadap isu tersebut untuk saat ini? Silakan menyaksikan cuplikan wawancara beliau di saluran Teknopreneur TV.


catatan:
[1] technologyreview.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Paguyuban Rental Akses Internet Broadband Murah:
Kontak 021-83826345 | 021-92702250
Lisensi Creative Commons
Hotspotmurah.com disebarluaskan di bawah Lisensi
Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi
.
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger